| Unjuk Rasa Buruh Tolak UU No.13/2003 Berakhir Anarkis |
|
|
|
| Written by Info Lowongan | |
| Thursday, 06 April 2006 | |
|
Tekad ratusan ribu buruh di seluruh Indonesia yang berdemonstrasi menolak revisi UU No. 13/2003 yang merugikan buruh tetapi menguntungkan pemodal di sebagian besar tempat berakhir tanpa menimbulkan kerugian, dan di sebagian tempat berakhir anarkis. Di Jakarta, demonstrasi puluhan serikat pekerja dan konfederasi pekerja dimulai sejak Rabu pagi. Puluhan ribu buruh dari Jabotabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Jawa Barat, dan beberapa wilayah Sumatera kebanyakan bermuara ke Istana Presiden atau Istana Wakil Presiden. Tuntutan yang mereka usung jelas, yaitu menolak tegas pemberlakuan revisi UU No. 13/2003 Tentang Ketenagakerjaan karena di dalamnya terdapat 71 pasal dan empat pasal tambahan yang bisa sangat merugikan buruh. Di antaranya, majikan boleh memecat pegawainya dalam masa kontrak berlaku tanpa memberi pesangon. Mereka bergerak dari beberapa sentra industri nasional, di antaranya kawasan industri Pulogadung, Jakarta Timur, atau dari jalan penghubung utama menuju Istana Merdeka. Akibatnya, kemacetan luar biasa terjadi di mana-mana. Sementara buruh mendapat pengawalan dari aparatur kepolisian yang sebelumnya telah memberikan izin atas pelaksanaan aksi demonstrasi massif itu. Dalam perjalanannya, mereka menyanyikan berbagai lagu perlawanan dan mengibarkan bendera-bendera serikat pekerja masing-masing. Bahkan, mereka juga membentangkan spanduk raksasa di sepanjang jalan dari bundaran Hotel Indonesia menuju kompleks Istana Merdeka. Tak cuma itu, mereka juga menyampaikan buku tebal berisi daftar tuntutan dan tanda tangan puluhan ribu buruh yang mendukung tuntutan itu kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla. Setelah memblokir Jalan Medan Merdeka Selatan dan bernegosiasi, akhirnya 10 anggota perwakilan mereka diterima Wapres di ruang kerjanya. Sementara Presiden masih melakukan kunjungan kerja ke Papua. Tak ada janji apa pun dari Kalla terkait pemenuhan tuntutan buruh-buruh itu, kecuali jaminan komitmen akan meninjau kembali butir-butir revisi UU No. 13/2003 itu. Hal itu, tidak pelak, membuat berang para buruh yang berujung pada aksi anarkisme di sepanjang jalan mereka pulang. Marka-marka jalan, rambu-rambu lalu lintas, lampu merah, halte-halte bis, pot-pot tanaman hias dan lampu-lampu gedung menjadi sasaran kemarahan mereka. Bahkan, beberapa bus PT Transjakarta atau busway koridor I yang diparkir di ujung kompleks silang Monumen Nasional dibakar bannya; jika tidak ada pengemudinya bukan mustahil massa membakar bis seharga Rp1,2 milyar per unit itu. Di Surabaya, Jawa Timur, belasan ribu pekerja dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Gresik, dan Mojokerto serta beberapa daerah lainnya di Jawa Timur juga "menyerbu" gedung DPRD Jawa Timur di Jalan Indrapura dan Kantor Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan Surabaya. Para buruh demonstran yang ke gedung Dewan tersebut, sejak pagi hari sudah berkumpul di beberapa tempat di kawasan industri di Surabaya dan sekitarnya, mereka berangkat memakai kendaraan bermotor roda dua, empat dan lebih, hingga truk tertutup dan terbuka, atau malah cuma berjalan kaki saja. Hingga Rabu petang, aksi demonstrasi di sana dilaporkan tak sampai menimbulkan aksi anarkisme yang signifikan kecuali ada aksi saling lempar ejekan namun tidak berujung pada tindak kekerasan massal. Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, aksi demonstrasi buruh serupa bahkan sampai melumpuhkan aktivitas industri perkayuan padahal industri ini cukup besar peranannya terhadap kelangsungan roda ekonomi setempat. Di beberapa pabrik furnitur setempat, keadaan sangat sepi jauh dari hiruk-pikuk suara mesin gergaji, potong dan mesin-mesin lain. Para buruh yang jumlahnya tak sedikit di sektor itu, memilih untuk ikut berdemonstrasi ketimbang masuk kerja karena jumlah yang berdemonstrasi jauh lebih banyak daripada yang tidak berdemonstrasi. Di Palembang, dilaporkan, aksi serupa juga sampai melumpuhkan aktivitas industri setempat di berbagai sektornya. Sasaran mereka di sana ada dua tempat, yaitu Kantor Gubernur Sumatera Selatan dan DPRD Sumatera Selatan. Selain menghentikan aktivitas industri setempat, demonstrasi itu juga mengacaukan lalu-lintas kota terbesar di Sumatera Selatan itu sehingga banyak kendaraan bermotor yang terjebak atau malah harus balik kanan mengambil jalur alternatif lain. (Ant) |
|
| Last Updated ( Thursday, 06 April 2006 ) |
| < Prev | Next > |
|---|




