| Indonesia Masih Kekurangan Tenaga Akuntan Profesional |
|
|
|
| Written by Info Lowongan | |
| Friday, 13 July 2007 | |
|
Indonesia saat ini masih kekurangan tenaga akuntan dan pemerintah membutuhkan sedikitnya 34.700 tenaga akuntan. Namun, sampai saat ini hanya ada sejumlah belasan lembaga pendidikan Program Profesi Akuntansi (PPAk). Demikian disampaikan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (FE-USU), Jhon Tafbu Ritonga, dalam siaran pers yang diterima Analisa, Rabu (11/7). “Jika tenaga akuntan masih kurang, mustahil pengelolaan keuangan negara bisa ditingkatkan sesuai tata kelola usaha yang baik (good corporate governance),” jelasnya. Saat ini, jelasnya, terdapat sekitar 19.670 satuan kerja departemen dan lembaga non departemen serta 15 ribu satuan kerja (Satker) daerah yang membutuhkan tenaga akuntansi. FE-USU yang saat ini menjadi salah satu lembaga pendidikan penghasil akuntan, sebutnya, hanya mungkin menghasilkan maksimal sebanyak 40 akuntan profesional dalam setahun. Sedangkan untuk S-1 Akuntansi hanya 200-an orang dalam setahun. PROGRAM PERCEPATAN “Karena itulah, harus ada program percepatan, khususnya untuk S-1 Akuntansi,” tegasnya sembari menyebutkan, FE-USU saat ini mulai menerima mahasiswa baru untuk PPAk, di samping Program S-1 Mandiri dan Ekstensi, dan di luar Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). “Melalui program ekstensi ini diharapkan dapat membantu menyiapkan tenaga akuntan profesional tersebut,” katanya. Pendaftaran PPAk dan Program S-1 Ekstensi, jelasnya, dilakukan di FE-USU dan berakhir 20 Juli, sementara tempat pendaftaran Program S-1 Mandiri dilakukan hingga 18 Juli di Kantor Panitia Lokal (PL) SPMB USU. PPAk, kata dekan yang juga dikenal sebagai pengamat ekonomi ini, hanya menerima sarjana S-1 program akuntansi, baik dari perguruan tinggi negeri (PTN) maupun swasta (PTS) terakreditasi. Perkuliahan PPAk diselenggarakan pada malam hari karena biasanya para peminatnya adalah mereka yang sudah bekerja, ungkapnya. Sementara untuk Program S-1 ekstensi, dibuka untuk lulusan diploma (D-3) dan S-1 yang ingin memperoleh gelar sarjana ekonomi program studi pembangunan, manajemen, dan akuntansi dengan sistem matrikulasi untuk mengonversi mata kuliah yang diperoleh di perguruan tinggi asal dengan mata kuliah yang ada di FE-USU serta sistem anvulan. “Kuliah ekstensi dilaksanakan sore dan malam hari dari Senin sampai dengan Jumat,” paparnya. Mengenai uang kuliah Program S-1 Mandiri, Jhon Tafbu menyebutkan sekitar Rp6 juta per tahun. “Itu sesuai dengan namanya. Itupun daya tampung kita sangat terbatas maksimal hanya 100-an orang. Sebab, melalui jalur Panduan Minat dan Prestasi (PMP) saja, FE-USU sudah menerima lebih dari 260 mahasiswa baru yang saat ini sedang mengikuti matrikulasi,” demikian Jhon Tafbu. (gas) sumber:www.analisadaily.com/13 Juli 2007 |
| < Prev | Next > |
|---|




