| DPR Tolak Revisi UU Naker |
|
|
|
| Written by Info Lowongan | |
| Tuesday, 02 May 2006 | |
|
JAKARTA - Hari Buruh 1 Mei kemarin diperingati secara serentak di seluruh Indonesia. Di kota-kota yang menjadi sentra industri atau berdekatan dengan basis industri, ribuan buruh turun ke jalan. Di Jakarta, Surabaya, Solo, Medan, Makassar, Riau, Lampung, Bandung, Sidoarjo, dan sejumlah kota lain, para demonstran menuntut perbaikan kesejahteraan. Peringatan Hari Buruh yang juga populer dengan sebutan May Day tahun ini bisa dikatakan yang terbesar dalam sejarah perburuhan di Indonesia. Hal itu disebabkan adanya isu bersama yang digotong para pekerja. Yakni, penolakan revisi UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Isu tersebut menggema di seluruh tempat buruh berunjuk rasa. Demonstrasi terbesar terjadi di Jakarta dan kota-kota di sekitarnya seperti Tangerang serta Bekasi. Kedua kota penyangga Jakarta tersebut merupakan pusat industri. Ribuan pabrik yang mempekerjakan jutaan buruh berada di Jakarta dan sekitarnya. Ribuan buruh kemarin memacetkan ibu kota. Sejak pukul 09.00, buruh yang berdatangan dari pelosok Jabotabek tersebut memenuhi jalan-jalan utama seperti Jl Thamrin dan Jl Sudirman. Bundaran HI yang merupakan tempat favorit untuk berunjuk rasa menjadi lautan buruh. Warga Jakarta sendiri sudah mengantisipasi demo ini. Ini terlihat sejak pagi jalan-jalan yang biasa macet terlihat sepi dan lenggang. Yang terlihat di sudut-sudut Jakarta adalah aparat keamanan. Beberapa hari sebelum May Day, sempat muncul isu akan anarkis. Pukul 13.40, buruh yang berada di HI itu, mulai bergerak menuju Istana Kepresidenan. Mereka tertahan di Lapangan Monas karena pagar betis aparat keamanan sangat ketat. Selain penjagaan polisi yang berlapis, pagar luar Istana Kepresidenan dilengkapi kawat berduri. Para demonstran hanya bisa memandang Istana Kepresidenan dan Istana Wapres dari Silang Monas. Untungnya, tak ada kerusuhan dalam aksi tersebut. Konsentrasi ratusan ribu buruh juga terjadi di sekitar Senayan. Ribuan bus dan truk yang mengangkut para buruh diparkir di Parkir Timur. Para buruh tersebut bergerak menuju gedung DPR. Mereka meminta komitmen para wakil rakyat untuk mengakomodasi kepentingan yang diusung, terutama menolak revisi UU No 13/2003. Di gedung wakil rakyat itu, mereka diterima komisi IX. Sejumlah wakil buruh ikut rapat dengar pendapat umum (RDPU). "Meski kami belum pernah menerima draf revisi tersebut, kami sepakat menolak dan tidak akan pernah membahas revisi UU Ketenagakerjaan," tegas Ketua Komisi IX DPR RI Ribka Tjiptaning. Komisi IX juga telah menerima 25 surat penolakan dari bupati, gubernur, wali kota, dan DPRD baik tingkat I dan II di seluruh Indonesia. "Penolakan ini kami lakukan untuk menanggapi aspirasi kalangan buruh yang menolak rancangan revisi UU tersebut," ujarnya. Dalam pertemuan itu, Komisi IX menerima sedikitnya 50 wakil buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional dan Kongres Serikat Pekerja Indonesia. Dialog antara dewan dan buruh pun sempat terjadi di Gedung Nusantara DPR. "Kami minta pernyataan ini benar-benar dilakukan DPR," ujar Kordinator SPN Bambang Wirahjoso. Menanggapi desakan ini, para anggota DPR yang sempat menemui perwakilan buruh pun sepakat membubuhkan tanda tangan sebagai bukti keseriusan mereka. Selain Tjiptaning, mereka yang hadir dalam forum itu adalah N. Serta Ginting (FPG), Anshory Siregar (FPKS), M. Arsa Suthisna (FKB), Hasanuddin Said (FPD), Muhammad Fauzi (FBPD), Nurul Falah Eddy Pariang (FPAN), Eva Kusuma Sundari (FPDIP), dan Sukardi Harun (FPPP). Usai pembacaan pernyataan Komisi IX oleh Anshory Siregar, anggota DPR yang tergabung dalam Kaukus Parlemen untuk Perlindung Buruh menyusul menyampaikan pernyataan sikap. Juru bicara kaukus Eva Kusuma Sundari meminta pemerintah menjadikan Hari Buruh Internasional yang jatuh pada 1 Mei sebagai hari libur nasional. "Ini sebagai bentuk penghargaan kaum buruh Indonesia," ujarnya disambut teriakan para buruh. Selanjutnya, perwakilan buruh dan sejumlah wakil poksi tersebut kembali menuju ke halaman depan kompleks DPR. Aksi puluhan ribu buruh di depan rumah rakyat ini juga mengundang perhatian Wakil Ketua DPR Zaenal Ma’arif dan Ketua FPDIP Tjahjo Kumolo. Bersama Tjiptaning dan Anshory, Zaenal naik ke atas mobil patroli dan berorasi. "Buruh adalah kaum mustatafin (tertindas, Red). Janganlah yang tertindas makin ditindas," katanya. "Jangankan usul revisi itu masuk ke DPR, baru sampai di luar pintu pun akan kami tolak," teriaknya disambut seruan gembira para buruh. Aksi buruh di depan gedung DPR kemarin berlangsung tertib. Sebanyak 870 aparat kepolisian yang berjaga-jaga pun terlihat akrab dengan para demonstran. Bahkan, mereka langsung bersalaman begitu tuntutan buruh menolak revisi UU tersebut dipenuhi DPR. Aksi buruh pun berakhir damai bersamaan dengan guyuran hujan yang tiba-tiba turun deras di Jakarta. Sementara itu, Menakertrans Erman Soeparno menjelaskan, pemerintah tetap akan merevisi UU No 13/2003. Dia mengakui revisi sebelumnya sudah didrop. "Presiden sudah menyatakan mengedrop revisi lama. Kini dikonsep revisi baru dengan melibatkan lima universitas. Kita tunggu saja karena ini sudah menjadi kesepakatan," ujar Erman. Berlangsung Damai Kendati Jakarta macet total oleh lautan buruh, demo tersebut berlangsung damai. Unjuk rasa tertib dan teratur. Setiap elemen buruh menggunakan seragam identitas kelompoknya, seperti ikat kepala dan bendera. Untuk keamanan selama aksi, para buruh juga mempersiapkan ratusan tenaga pengamanan internal guna menangkal penyusupan provokator dari luar yang bisa mengacau aksi. Mereka mengenakan kaus putih hingga mudah dikenali para buruh. Organisasi buruh yang turun ke jalan, antara lain, Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Gaspermindo), Serikat Buruh Jakarta ( SBJ), Konggres Aliansi Serikat Buruh Indonesia ( KASBI), dan Serikat Buruh Transportasi Nasional (SBTN). Dalam aksi bersama itu, mereka menamakan diri Aliansi Buruh Menggugat (ABM). Tampak pula organisasi massa di luar buruh seperti Komite Perjuangan Petani Indonesia (KPPI), Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), Walhi, dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi ( LMND). Hujan, Demo Bubar Sejak di Bunderan Hotel Indonesia, hujan lebat sudah mengguyur para pendemo. Namun, hal ini tidak membuat mereka putus asa untuk melakukan aksi. Mereka tetap melakukan long march ke arah Istana Negara. Tak pelak, aksi itu memacetkan jalan-jalan utama sepanjang Bunderan HI dan Istana Negara. Sesekali hujan tersebut berhenti. Hujan kembali lebat saat mereka mulai berkumpul dan berorasi di depan Istana Negara. Meski begitu, semangat mereka juga tidak surut. Mereka terus benyanyi dan berorasi serta mengibarkan bendera-bendera organisasi masing-masing maupun spanduk yang +++++++ menolak UU No 13 Tahun 2003. Di pihak lain, ratusan polisi juga tak bisa menghindar dari hujan. Mereka tetap berjaga dan bersiaga untuk menghalau peserta aksi yang hendak masuk ke istana. Berdasar pantauan Jawa Pos, hujan tersebut tergolong unik karena hanya terjadi di sekitar Bunderan HI dan Istana Negara serta Istana Wakil Presiden. Di luar wilayah tersebut, matahari tetap bersinar cerah. Demo di kota lain, seperti Surabaya, Sidoarjo, Makassar, Bandung, Riau, Medan, dan Jogjakarta, juga berlangsung damai. Di Solo demontran memasuki pendapa. Demo yang sempat tegang terjadi di Bandar Lampung. Massa Persatuan Gerakan Rakyat (PGR) Lampung bentrok dengan Polisi Pamong Praja (Pol PP) Pemprov Lampung dan Poltabes Bandarlampung. Aksi di depan Kantor Gubernur Lampung itu berujung penangkapan terhadap dua aktivis PGR, yakni Heru dan Evan. Penangkapan aktivis Serikat Rakyat Miskin Kota (SRMK) Bandarlampung dan anggota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lampung oleh anggota poltabes itu dipicu dugaan keterlibatan keduanya saat provokasi massa. (abi/yog/rdl/bh/jpnn) Sumber:jawapos.com/02 mei'06 |
|
| Last Updated ( Tuesday, 02 May 2006 ) |
| < Prev | Next > |
|---|




